Halaman


Rabu, 07 November 2012

PENYIKSAAN WARTAWAN DI RIAU TUAI KECAMAN DARI INSAN PERS

MAKASSAR, (TubasMedia.Com) – Aksi kekerasan terhadap enam wartawan saat peliputan jatuhnya pesawat Hawk 200 di Riau menuai kecaman dari seluruh jurnalis di seluruh Indonesia, termasuk di Makassar. Mereka menggelar aksi di Makassar menggelar aksi unjuk rasa di depan Monumen Mandala Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (18/10/2012).
Puluhan wartawan media nasional mau pun lokal di Makassar menggelar aksi unjuk rasa dengan aksi teatrikal mengikat seorang wartawan dan di lehernya digantungkan beberapa kamera. Bukan hanya itu, beberapa wartawan menutup mulutnya dengan menggunakan lakban dan mereka juga silih berganti berorasi yang mengecam aksi kekerasan tersebut.
“Kami mengecam tindakan kekerasan terhadap kawan kami di Riau saat ingin meliput. Ini sudah jelas pelanggaran Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Di mana dalam UU Pers tersebut, jelas tertuang menjamin kemerdekaan pers mempunyai hak mencari, memperoleh, menyebarluaskan informasi kepada publik,” kata Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, Abbas Sadji.
Abbas juga menambahkan, ketentuan pidana yang ditetapkan dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 menyebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan tugas jurnalis.
“Kami juga mengecam pelaku kekerasan yang dialami wartawan KOMPAS TV, Chermanto Tjaombah dan wartawan Pare Pos, Ade Chayadi di Kabupaten Pangkep, Sulsel saat kebakaran di BTG I, Pelabuhan Biring Kassi PT Semen Tonasa. Dalam penyataan sikap wartawan di Makassar, mengecam dan mengutuk tindakan kekerasan terhadap pers oleh oknum Propam TNI AU, menuntut aparat penegak hukum untuk segera melakukan proses pidana karena jelas melakukan pelanggaran UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 2 dan 3, mendesak Panglima TNI Agus Suhartono agar segera menyelesaikan kasus kekerasan pers di Riau serta Memahkamah Militerkan Letkol Robert Simanjuntak, pelaku kekerasan,” seru mereka.

AMUK MASSA



TRAGIS dan ironis. Betapa tidak, sedikitnya 12 orang meninggal dunia, puluhan lainnya luka-luka, puluhan rumah hancur dan ribuan penduduk mengungsi akibat amuk massa. Dan, ratusan aparat keamanan–polisi dan tentara–yang datang ke tempat kejadian perkara gagal mencegah eskalasi amuk massa yang beringas.

Sebelumnya, amuk massa juga terjadi Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tenggara dan di banyak tempat lain di wilayah Indonesia. Konflik horizontal yang disertai kekerasan itu tidak jarang dipicu oleh hal-hal sepele sebagai isu lokal di masyarakat.

Sederetan peristiwa amuk massa tersebut menunjukkan kepada kita tengah tumbuh dan berkembang sensitivisme perilaku warga masyarakat yang gampang marah dan mudah melakukan tindak kekerasan. Kekerasan komunal yang meletup sebagai pantulan sikap dan perilaku masyarakat terhadap situasi dan kondisi kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang ada di Indoneia saat ini.

Tampaknya, warga masyarakat sudah kesal dengan kondisi kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin lebar menganga. Warga masyarakat sudah muak dengan elite lokal dan elite nasional yang lebih mengedepankan kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Warga masyarakat sudah kecewa terhadap pelaksanaan penegakan hukum yang transaksional dan menyuburkan korupsi.

Bisa jadi amuk massa di Way Panji dan di sejumlah wilayah lain di Indonesia merupakan sejumlah puncak gunung es perilaku warga masyarakat yang kesal, muak dan kecewa sehingga gampang tersinggung dan mudah melakukan tindak kekerasan. Puncak gunung es itu tengah tumbuh dan berkembang di bawah permukaan lautan ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat Indonesia.

Amuk massa yang terjadi di banyak tempat di wilayah Indonesia tidak boleh dibiarkan. Konflik horizontal yang disertai kekerasan perlu diselesaikan secara adil dan menyeluruh. Puncak gunung es kekerasan komunal itu merupakan pantulan sikap dan perilaku warga masyarakat yang gampang tersingung dan mudah melakukan kekerasan massal.
Letupan puncak-puncak gunung es yang muncul di banyak tempat perlu kajian secara komprehensif, sehingga bangunan heterogenitas kehidupan masyarakat Indonesia yang plural tetap terjaga dalam ayunan langkah bersama membangun masa depan Indonesia!

Warga Khawatir Bencana Susulan


BAYAH – Korban banjir dan longsor di De­sa Pamubulan, Kecamatan Bayah kha­watir akan bencana susulan. Potensi longsor dan banjir dinilai masih besar karena be­lum ada tindakan dari pemerintah untuk mem­bangun tembok penahan tanah (TPT) dan beronjong.
Demikian disampaikan Sekertaris Desa Pa­mubulan Sudaryat kepada Radar Banten, Jumat 24 Februari 2012. “Saat ini, warga memasang ka­rung batu dan bambu untuk menahan ban­jir. Sementara untuk menahan longsor, hanya dengan beronjong darurat dari kawat,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan sembako dari Pem­kab Lebak belum diterima, tetapi su­dah mendapat informasi dari Badan Pe­nanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak akan datang ke tempat bencana. “Informasi dari BPBD Lebak, masih dalam perjalanan,” ucapnya.


Kata Sudaryat, panjang tanggul yang di­butuhkan untuk menahan banjir sekira 700 meter dengan ketinggian 2,5 meter hi­ngga 3 meter. Sementara untuk tembok pe­nahan longsor sepanjang 300 meter de­ngan ketinggian 15 sampai 20 meter. “Namun sejauh ini belum ada upaya dari Pem­kab Lebak untuk mengantisipasi ben­cana susulan,” terangnya.

Kasi Trantib Kecamatan Bayah Usep Sae­pudin mengungkapkan, sekira pukul 13.00 WIB, bantuan sembako dari BPBD Lebak sudah diterima korban banjir dan longsor. “Bantuan sudah diterima dari BPBD Lebak,” terangnya melalui pesan singkat. 

Sekadar diketahui, hujan yang mengguyur Kecamatan Bayah, Rabu (22/2) malam, mengakibatkan tebing setinggi 15 meter di Kampung Cipetir, Desa Pamubulan longsor dan menimpa permukiman warga. Material lumpur dan batu dari bukit me­ner­jang lima rumah. Akibatnya, dua rumah rusak berat dan tiga rumah rusak ringan. Kemudian akibat tanggul penahan banjir Sungai Cipamubulan sepanjang 350 meter jebol, mengkibatkan 38 rumah terendam banjir dengan ketinggian hingga 50 sen­timeter.

Kepala BPBD Kabupaten Lebak Muklis membenarkan, jika anggota BPBD Lebak sudah menyalurkan bantuan sembako. “Staf saya sudah meluncur ke lokasi bencana pagi hari,” ujarnya singkat melalui sam­bungan telepon. (mg-11/run/ags).

GAZA KEMBALI DISERANG, 14 MATI SYAHID

Dalam waktu kurang dari 24 jam pasukan zionis Israel telah membunuh 14 warga Palestina di Jalur Gaza, sejak militer zionis melancarkan serangannya ke Gaza sejak Jumat malam sampai Sabtu,10 Maret 2012 sore.

Juru bicara Komite Tinggi Layanan Darurat–sebuah layanan medis di Gaza–Adham Abu Salmiyya menyatakan, dua warga Gaza bernam Mansour Abu Naseera, 20 dan Hasan Al-Breem, 51 gugur syahid akibat serangan pasukan zionis pada Sabtu sore di Khan Younis. Pasukan zionis menembakkan misilnya ke arah sepeda motor warga Gaza itu, sehingga jumlah warga Gaza yang gugur syahid akibat serangan Israel sejak Jumat kemarin sudah mencapai 14 orang.

Militer zionis melakukan serangan ketika warga Gaza sedang melakukan pemakaman 12 warga Gaza yang gugur syahid pada hari Jumat, akibat serangan misil Israel. Diantara korban adalah Sekretaris Jenderal Komite Perlawanan Popular Zuheir Al-Qaisi dan deputinya Mohammad Hanani. Tujuh orang korban serangan Israel lainnya adalah anggota dari Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam.

Ribuan warga Gaza turun ke jalan untuk mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman, diiringi dengan tembakan ke udara oleh ratusan pejuang Palestina di Gaza. Mereka bersumpah untuk melakukan pembalasan atas serangan Israel yang telah membunuh 14 warga Gaza.

Sejumlah pejuang dari berbagai faksi perjuangan Palestina di Gaza, telah menembakkan beberapa misil buatan mereka sendiri ke wilayah Israel yang berbatasan langsung dengan Gaza. Sebuah misil Grad ditembakkan ke Al-Majdal, dan sebuah mortir ditembakan ke arah Karem Abu Salem atau yang dikenal dengan perbatasan Karem Shalom.

Media Israel Ynet dalam laporannya mengklaim bahwa para pejuang Palestina telah menembakkan lebih dari 90 misil, sebagai pembalasan atas serangan milter zionis ke Gaza. Namun, masih menurut Ynet, sistem pertahanan “Kubah Besi” Israel mampu menangkal 25 dari 27 misil yang ditembakkan ke Beersheba, Ashdod dan Ashkelon. (aisyah/im).
Sumber : Dakwatuna.com